Rabu, 28 November 2007

Alm. KH. Rahmat Abdullah ( 1953-2005)

http://www.pks-jaksel.or.id/
Satu lagi tokoh nasional pergi meninggalkan kita. K.H. Rahmat Abdullah, anggota komisi III DPR RI dari Fraksi PK Sejahtera yang pernahmenjabat ketua MPP periode 1999-2005. “Ustadz Rahmat”,begitu beliau biasa dipanggil para muridnya, sedangmenghadiri rapat lembaga tinggi partai di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Tugas barunya selakuKetua Badan Penegak Disiplin Organisasi di PK Sejahtera2005-2010 belum sempat ditunaikan.Pada hari Selasa (14/6), ketika menghadiri rapat takada tanda-tanda beliau sakit. Wajahnya cerah sepertibiasa. Namun, ketika beliau berwudhu untuk menunaikanshalat Maghrib, tiba-tiba merasakan sakit di kepala.Beliau sempat diperiksa dr. Agus Kushartoro (DirekturBulan Sabit Merah Indonesia/BSMI) dan dinyatakanterkena stroke.Presiden PK Sejahtera Ir. H. Tifatul Sembiring bersamafungsionaris PK Sejahtera sempat mengantarkan ke RS.Tria Dipa di Pancoran. Karena peralatannya kurangmemadai, beliau segera dibawa ke RS Islam CempakaPutih. Namun, di tengah perjalanan, sekitar pukul19.30 beliau dipanggil Allah SWT. Ustadz Rahmat yangdigelari “Syaikh at Tabiyah” oleh Majalah SABILI(tahun 2001), wafat dalam usia 52 tahun, meninggalkanseorang isteri dan tujuh anak.Almarhum dimakamkan di TPU Bojong Jati Makmur, takjauh dari tempat kediamannya yang asri. Murid daritokoh kharismatik KH. Abdullah Syafi’I (pendiri danpimpinan PonPes Asy Syafi’iyah) itu memang dikenalsederhana, meskipun pengaruhnya amat besar dikalangantokoh-tokoh muda gerakan Islam. Namanya sempat diusungKoalisi Kebangsaan dalam Sidang Umum MPR tahun 2004sebagai alternatif calon Ketua MPR, karena dinilaipaling senior. Namun akhirnya Dr. Hidayat Nur Wahid,MA yang maju dab terpilih sebagai ketua MPR RImengalahkan calon dari Koalisi Kebangsaan.K.H. RAHMAT ABDULLAH dilahirkan di kota Jakarta padatanggal 3 Juli 1953. Putra kedua dari 4 bersaudara inihidup dari keluarga asala Betawi yang sederhana dantaat beragama. Pada usia 11 tahun ia harus menapakihidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu iatelah menjadi seorang anak yatim.Awal pendidikan resminya disamping dididik oleh keduaorang tua, ia memasuki sebuah perguruan Islam yangterkenal di Jakarta, yakni Perguruan Islam AsSyafi’iyah bimbingan KH. Abdullah Syafi’I hinggamenamatkan sekolah Aliyah (tingkat menengah) denganprestasi yang gemilang.Rahmat Abdullah muda sangat berbeda dengan kaum remajaseusianya pada saat itu. Ia taat beribadah, selainmemiliki karakter dan akhlaq yang mulia. Hari-harinyadihabiskan untuk belajar, membaca dan membaca. Bahkan,diusianya yang sangat muda ia telah memposisikandirinya sebagai “guru” di tempat ia menuntut ilmu.Dunia Ilmu adalah dunia yang sangat melekat dalamdirinya. Kegemaran membaca Al Quran dan aneka bukumembuat ia jauh lebih cepat matang dibandingkanremaja-remaja lain pada umumnya. Disaat itulah iamulai banyak membaca karya pemikiran dan perjuangantokoh-tokoh seperti HOS Cokro Aminoto, Moh Natsir,Hasan Al Banna, Sayyid Qutb, Abul A’la Maududi dantokoh-tokoh pergerakan islam lainnya. Disamping iatetap menekuni kitab-kitab klasik (kitab kuning)sebagai warisan sejarah.Kebersihan jiwanya telah mengantarkan Rahmat Abdullahmenjadi pemuda pembelajar cepat yang sangat cemerlangseperti lautan ilmu tanpa menyandang gelar. Iaperpaduan antara khazanah ilmu-ilmu keislaman klasikdan pandangan Islam modern yang tidak dimiliki olehbanyak orang yang berlabel Ustadz.Dunia seni dan sastra sebagai media komunikasi budayajuga merupakan bagian dari dirinya yang tak pernahlepas. Antara bakat dan semangat telah melekat. Iagemar dzikir dan fikir, membaca fenomena alam yangkemudian diekspresikan dalam bentuk produk seni,seperti puisi, esai, butir-butir nasyid dan naskahdrama. Oleh karena itulah banyak orang cendrungmenjulukinya sebagai seorang “budayawan”.Sebagai seraong da’I sejati, ia habiskan waktu, tenagaserta pikirannya untuk kegiatan da’wah. Siang danmalam dilaluinya dengan pengajian demi pengajian tanpamengenal lelah dan keluh kesah. Ia menjadi tempatanak-anak muda berkonsultasi, berbagi rasa, curahanhati tanpa ada batas waktu “pelayan umat”. Itulahperan yang ia mainkan hingga kini.Sebagai seorang Muballigh, ia dikenal memilikikarakter yang khas. Kemampuan retorika tinggi yangdihiasi oleh sentuhan sastra yang acap kali membuatpara pendengar menangis sebagaimana kemampuan iamembangkitkan semangat yang menggelora ketika iamengangkat isu tentang JIHAD.Beliau juga aktif mengisi ceramah di radio dantelevisi. Beliau adalah pengisi rubrik rutin “TitikPandang Rahmat Abdullah” di Radio Dakta Bekasi setiapSabtu jam 06.30 WIB. Di radio ini pula beliaumenggagas rubrik SAMARA yang disiarkan setiap malamrabu.Sebagai seorang penulis, beliau aktif menulis buku danmengisi rubrik dibeberapa majalah Islam sepertimajalah SABILI, ISHLAH, SAKSI, Da’watuna, dan UMMI,TARBAWI. Di majalah yang terakhir inilah beliau secararutin mengisi rubrik Asasiyat yang kemudia olehPustaka Da’watuna diterbitkan menjadi sebuah bukudengan judul “Uktukmu Kader Da’wah” pada tahun 2005.Buku inilah sebagai persembahan terakhir beliau.Awal tahun 80an ia memasuki dunia Harakah Islamiyahyang pada saat itu mulai tumbuh di Indonesia hinggamengantarkan beliau sebagai pakar dalam bidangTARBIYAH (Syaikh at Tarbiyah).Dengan bermodalkan sepeda motor tua ia masuk kampungkeluar kampung, masuk kampus keluar kampus menaburfikrah Islamiyah yang shahih dan syamil. Fikroh danmanhaj da’wah yang didistribusikan ternyata mendapatsambutan yang hangat dari berbagai kalangan yangkemudian menjadi cikal bakal berdirinya PK Sejahtera.Awal tahun 1990 beliau memasuki pengembangan duniapendidikan dan social secara formal, sebagai wujuddari kepeduliannya terhadap lingkungan. Ia mendirikanISLAMIC CENTRE IQRO’ yang bergerak dalam bidangpendidikan, social, dan da’wah di wilayah Pondok Gede,Bekasi, Jawa Barat. Disinilah ia menetap dan disinilahia berekspresi mengembangkan citia citanya melaluikajian-kajian kitab klasik setiap Ahad pagi.Proses perjalanan da’wah yang panjang akhirnya telahmenggiringnya kepada keterlibatan dalam dunia politikyang kini ia geluti. Partai Keadilan yang kemudianberubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera, adalahbagian dari dirinya. Ia salah seorang pendiri daripartai berbasis Islam intelektual itu.Posisi kepemimpinan tinggi dalam partai telah puladijabatnya. Pada periode 2004/2005 beliau menjabatsebagai ketua MPP (Majelis Pertimbangan Partai) dansetelah itu baru saja dikukuhkan sebagai ketua BadanDisiplin Organisasi PK Sejahtera untuk periode2005-2010.Hari hari kehidupannya diwarnai oleh kesibukan yangluar biasa. Mengajar, memberi taujih pada acarakepartaian, ceramah di berbagai stasiun radio dantelevisi, mengisi seminar seminar keislaman diberbagai daerah dan luar negeri, menulis artikel disejumlah media cetak, disamping melakukan lobbypolitik dengan berbagai kalangan. Hingga mautmenjemputnya.SELAMAT JALAN MUJAHID DA’WAHMURIDMU, KADER-KADERMU AKAN MENERUSKAN CITA-CITAPERJUANGANMUALLAHU AKBAR 3 XSumber : Mahfudz SidikDiketik ulang oleh Fajar Martiono

Profil Tifatul Sembiring ( Presiden PK Sejahtera)

http://www.pks-jakarta.or.id/

TIFATUL Sembiring mulai menempati ruang barunya setelah resmi menjadi pejabat sementara presiden PKS. Dia menempati ruang bekas kantor Hidayat Nurwahid seluas sekitar 5 x 5 meter. Belum ada perubahan berarti di ruang itu. Di meja kerja, nama Hidayat pun masih terpampang beserta jabatannya sebagai presiden partai.Di depan kantor PKS yang berpusat di Jalan Mampang Prapatan, Jaksel, itu terlihat empat mobil parkir. Salah satunya Opel Blazer dengan nopol B 1377 MY warna biru tua, bekas mobil Hidayat. "Mobil itu sudah diserahkan kepada Bapak (Tifatul Sembiring). Tetapi, sejak diserahkan, mobil itu belum pernah keluar. Sebab, Bapak masih menggunakan kendaraan pribadinya (Mitsubishi Kuda). Katanya, sopirnya belum terbiasa membawa mobil itu," ungkap Bambang, salah seorang petugas keamanan yang berjaga-jaga di depan kantor PKS. Di sekitar tempat parkir itu, masih terdapat beberapa papan ucapan selamat dan sukses terpilihnya Hidayat sebagai ketua MPR RI. Tidak ada tanda-tanda sama sekali bahwa partai itu mengalami proses penggantian pucuk pimpinan. Semuanya tampak biasa. Di ruang tamu, hanya wartawan koran ini dan seorang resepsionis sedang menerima telepon. Ketika wartawan ini dipersilakan masuk, Tifatul yang dihubungi sebelumnya sudah menunggu di ruangnya. "Ini ruangan sementara. Kita bisa bisa ngobrol panjang di sini," katanya mempersilakan. Tifatul -yang sebelumnya menjabat ketua DPP PKS Wilayah Dakwah (Wilda) I, membawahkan 10 provinsi se-Sumatera- merendah dengan mengatakan tidak ada yang istimewa dari proses peralihan pimpinan PKS. Dia malah mengaku takut dengan jabatan sementara yang bakal diemban hingga enam bulan ke depan itu. Karena itu, dia merasa harus berhati-hati mengambil tindakan. "Kalau di PKS, kita justru takut menerima jabatan. Karena itu, tidak ada kader yang mau melakukan kampanye positif untuk pencalonannya. Tetapi, kita seperti anak panah yang siap diluncurkan ke mana saja oleh pemegang tali busur, yaitu Majelis Syura dan lembaga tinggi partai," cetusnya.Ayah tujuh anak ini menceritakan, penerimaan mandat untuk menggantikan Hidayat itu cukup mendadak. Dia baru mengetahui pengangkatan itu pada Jumat malam, 8 Oktober 2004, atau tiga hari sebelum dilantik dan diumumkan ke publik. Suami Sri Rahayu ini merasa kaget karena tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang melibatkan Majelis Pertimbangan Partai, Majelis Syura, Dewan Syariah Pusat, dan Presiden PKS Hidayat Nurwahid. "Saya dan istri saya baru tahu malam Sabtu. Keputusan itu sudah diambil dan dimandatkan kepada saya setelah salat magrib," urainya. Tetapi, istri dan anak-anaknya sudah paham pola kerja PKS yang tangkas itu. Apalagi sejak kali pertama aktif di Partai Keadilan (PK, sebelum berganti menjadi PKS), dia selalu berada di luar rumah. Kesibukannya meningkat ketika Nurmahmudi Ismail menjadi presiden PK. Sebagai Humas PKS, dia selalu diminta untuk mendampingi sang presiden. Keluarganya sudah paham dengan kegiatan yang amat ketat itu. "Bahkan, saya pernah berada di luar rumah sampai 17 hari," tutur Tifatul. Dia menambahkan, meski tidak aktif di partai, istrinya sangat paham. Lebih-lebih, keluarga Tifatul Sembiring memberikan makna pekerjaan politik di PKS adalah ibadah dan pengabdian kepada umat. Untuk menyangga kehidupan keluarganya, tokoh kelahiran Bukit Tinggi, 28 September 1961, itu mempunyai usaha sendiri di bidang penerbitan. Dia menjabat direktur sekaligus penulis pada penerbitan Asaduddin Press, Jakarta 1991, itu. Sang istri, Sri Rahayu, juga aktif menulis tentang kewanitaan. Bukunya sudah diterbitkan Gema Insani Press, yakni Bila Muslimah Berpolitik dan Ketika Aku Mencintaimu. Kegiatan di bidang dakwah itu pulalah yang menyatukan tali cinta Tifatul dengan Sri Rahayu. Pasangan itu kali pertama berkenalan di sela-sela kegiatan dakwah di kampus. Tifatul memang berangkat dari aktivis dakwah kampus. Selain menebar syiar Islam, dia akhirnya dipertemukan dengan gadis Karanganyar itu dalam forum mulia itu. Tifatul juga pernah menjadi pengurus Litbang Nurul Fikri Jakarta 1990. Dia telah menulis sekitar 20 buku soal agama dan pendidikan anak-anak. Di antara buku-bukunya itu, sampulnya didesain sendiri. "Saya senang menciptakan desain buku sendiri. Saya juga sudah punya alatnya di rumah," urainya.Meskipun sangat sibuk, Tifatul selalu berusaha menyediakan waktu khusus untuk keluarganya. Bahkan, dia terkadang mengadakan rapat keluarga untuk mendengarkan masukan dan kritik anak-anaknya. Dengan begitu, anak-anaknya tak terasing dari kegiatan ayahnya. Putra putri buah cinta Tifatul-Sri Rahayu masih belum beranjak dewasa. Si sulung adalah Sabriana, kelas 2 SMU, dan adiknya, Fathan, kelas 1 SMA. Sedangkan adik-adiknya adalah Ibrahim, Yusuf, Fatimah, Muhammad, dan si bungsu Abdurrahman, berusia 2 tahun 8 bulan. Mereka tinggal di kompleks Pondok Mandala II Blok N-1, Cimanggis, Depok, Jabar.Sebelum terjun ke dakwah dan politik, Tifatul sebenarnya sudah mendapat pekerjaan mapan. Insinyur lulusan STI&K (Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer), Jakarta, itu bekerja di PLN Pusat Pengaturan Beban Jawa, Bali, Madura. Dia menggarap bidang telekomunikasi dan data processing sejak 1982.Namun, aktivis yang memilih tinggal di Jakarta sejak bersekolah di SMP itu mengundurkan diri pada 1989. Alasannya, pekerjaannya itu sangat menyita waktunya sehingga tidak bisa menyempatkan diri berinteraksi dengan sesama untuk berdakwah. Padahal, dalam dirinya telah tertanam jiwa mubalig sejak di kampus. "Sedikit sekali waktu saya untuk berinteraksi dengan masyarakat. Saya berangkat jam enam pagi dan pulang jam enam sore dalam kelelahan. Interaksi saya dengan masyarakat itu minim sekali. Dalam Islam, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memberikan manfaat kepada orang lain," urai Tifatul dengan nada rendah.Sekeluar dari PLN, aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) itu bergabung dengan yayasan pendidikan Nurul Fikri pada 1990 dan selanjutnya dalam Korps Mubaligh Khairu Ummah hingga sekarang. Tifatul juga pernah mengasah wawasan sekitar enam bulan di International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan.Dari kegiatan dakwah itulah, Tifatul merangkai lagi jaringan dakwah kampus. Setelah era multipartai tiba, dia ikut mendirikan PK. Tifatul tercatat sebagai salah seorang di antara 50 pendiri PK. "Saya termasuk pendiri PK pada 1998. Termasuk Pak Hidayat Nurwahid dan Nurmahmudi Ismail. Pada 2003, kami tidak lolos electoral threshold, maka kami ganti nama menjadi PKS," katanya. Di situlah, Tifatul mulai menggeluti politik praktis. Karirnya terus berkembang dalam partai itu. Awalnya, dia menjabat humas partai sekaligus mendampingi Nurmahmudi Ismail. Menjelang Munas PKS, Tifatul ditugaskan sebagai wakil sekjen dan pascamunas mendapat mandat menjadi ketua DPP untuk Wilayah Dakwah (Wilda) I Sumatera. Soal pengangkatannya sebagai pejabat sementara presiden PKS, Tifatul masih meraba-raba. Di antaranya, mungkin saja, dia dipandang sukses karena PKS memperoleh 380 kursi di parlemen dari Sumatera. Sebanyak 11 orang di DPR RI, 57 orang di DPRD provinsi dan sisanya adalah DPRD kabupaten/kota. Itu lebih dari sepertiga dari total 1.112 kursi yang diperoleh PKS di seluruh Indonesia. Namun, Tifatul tak bisa memastikannya. Dia hanya bisa menduga-duga penyebab ditunjuk sebagai eksekutif tertinggi di PKS itu. "Saya tidak memahami pertimbangan lembaga tinggi partai sampai meyakinkan majelis syura (untuk memilih dia)," katanya.Berkaitan dengan penentuan PKS untuk mendukung SBY-Kalla, Tifatul ternyata menjadi salah seorang tim pelobi partai. "Alhamdulillah, setelah saya persentasikan di depan majelis syura, keberhasilan itu (hasil komunikasi dengan SBY-Kalla) diterima dengan baik dan akhirnya menunjuk saya menjadi tim lobi SBY-Kalla sampai kita melahirkan kontrak politik." Namun, Tifatul kembali mengigatkan, apa pun keberhasilan PKS itu hasil kerja kolektif dengan rekan-rekannya. Sebab, menurut dia, bekerja di PKS itu bukan secara individual. Tetapi, secara tim dan didukung partai. Begitu juga dengan hasil kerjanya di Sumatera pada pemilu legislatif lalu. Tifatul mengakui, dirinya dibantu kekompakan sekitar 52 ribu kader PKS se-Sumatera. Selamat berdakwah. (*) (berita: Indo Pos/foto:timedi@)

PROFIL Syech Hasan Al Banna







by asranibanua

Ia dilahirkan di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir tahun 1906 M. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits. Sejak masa kecilnya, Hasan al Banna sudah menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan kecil telah menghafal separuh isi Al-Qur’an. Sang ayah terus menerus memotivasi Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di sekolah. Kemudian belajar membuat dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum. Demikianlah sederet prestasi Hasan kecil.Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i’dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa, kisahnya begini:
Suatu siang, usai belajar di sekolah, sejumlah besar siswa berjalan melewati mushalla kampung. Hasan berada di antara mereka. Tatkala mereka berada di samping mushalla, maka adzan pun berkumandang. Saat itu, murid-murid segera menyerbu kolam air tempat berwudhu. Namun tiba-tiba saja datang sang imam dan mengusir murid-murid madrasah yang dianggap masih kanak-kanak itu. Rupanya, ia khawatir kalau-kalau mereka menghabiskan jatah air wudhu. Sebagian besar murid-murid itu berlarian menyingkir karena bentakan sang imam, sementara sebagian kecil bertahan di tempatnya. Mengalami peristiwa tersebut, al Banna lalu mengambil secarik kertas dan menulis uraian kalimat yang ditutup dengan satu ayat Al Qur’an, “Dan janganlah kamu mengusir orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.”(Q. S. Al-An’aam: 52).
Kertas itu dengan penuh hormat ia berikan kepada Syaikh Muhammad Sa’id, imam mushalla yang menghardik kawan-kawannya. Membaca surat Hasan al Banna hati sang imam tersentuh, hingga pada hari selanjutnya sikapnya berubah terhadap “rombongan anak-anak kecil” tersebut. Sementara para murid pun sepakat untuk mengisi kembali kolam tempat wudhu setiap mereka selesai shalat di mushalla. Bahkan para murid itu berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membeli tikar mushalla!Pada usia 21 tahun, beliau menamatkan studinya di Darul ‘Ulum dan ditunjuk menjadi guru di Isma’iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pengayom umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dijebloskan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Satu di antara penyebab kemunduran umat Islam adalah bahwa umat ini jahil (bodoh) terhadap ajaran Islam.
Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya “Al-Ikhwanul Muslimun,” bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau.
Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah.
Dakwah beliau bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan).Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah beliau. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya.Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Q. S. Ash-Shaff:
Masa-masa sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid beliau yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid beliau yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka. Demikianlah, siksaan, tekanan, pembunuhan tidak akan memadamkan cahaya Allah. Bahkan semuanya seakan-akan menjadi penyubur dakwah itu sendiri, sehingga dakwah Islam makin tersebar luas.
Di antara karya penerus perjuangan beliau yang terkenal adalah Fi Dzilaalil Qur’an (di bawah lindungan Al-Qur’an) karya Sayyid Quthb. Sebuah kitab tafsir Al-Qur’an yang sangat berbobot di jaman kontemporer ini. Ulama-ulama kita pun menjadikannya sebagai rujukan terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah Al-Qu’an dan Terjemahannya keluaran Depag RI, kemudian Tafsir Al-Azhar karya seorang ulama Indonesia Buya Hamka. Mengenal sosok beliau akanlah terasa komplit apabila kita mengetahui prinsip dan keyakinan beliau.
Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang senantiasa beliau pegang teguh dalam dakwahnya:Saya meyakini: “Sesungguhnya segala urusan bagi Allah. Nabi Muhammad SAW junjungan kita, penutup para Rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Sesungguhnya hari pembalasan itu haq (akan datang). Al-Qur’an itu Kitabullah. Islam itu perundang-undangan yang lengkap untuk mengatur kehidupan dunia akhirat.”
Saya berjanji: “Akan mengarahkan diri saya sesuai dengan Al-Qur’an dan berpegang teguh dengan sunah suci. Saya akan mempelajari Sirah Nabi dan para sahabat yang mulia.”
Saya meyakini: “Sesungguhnya istiqomah, kemuliaan dan ilmu bagian dari sendi Islam.”
Saya berjanji: “Akan menjadi orang yang istiqomah yang menunaikan ibadah serta menjauhi segala kemunkaran. Menghiasi diri dengan akhlak-akhlak mulia dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk. Memilih dan membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan islami semampu saya. Mengutamakan kekeluargaan dan kasih sayang dalam berhukum dan di pengadilan. Tidak akan pergi ke pengadilan kecuali jika terpaksa, akan selalu mengumandangkan syiar-syiar islam dan bahasanya. Berusaha menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk seluruh lapisan umat ini.”Saya meyakini: “Seorang muslim dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah, di dalam hartanya yang diusahakan itu ada haq dan wajib dikeluarkan untuk orang yang membutuhkan dan orang yang tidak punya.
Saya berjanji: “Akan berusaha untuk penghidupan saya dan berhemat untuk masa depan saya. Akan menunaikan zakat harta dan menyisihkan sebagian dari usaha itu untuk kegiatan-kegiatan kebajikan. Akan menyokong semua proyek ekonomi yang islami, dan bermanfaat serta mengutamakan hasil-hasil produksi dalam negeri dan negara Islam lainnya. Tidak akan melakukan transaksi riba dalam semua urusan dan tidak melibatkan diri dalam kemewahan yang diatas kemampuan saya.”
Saya meyakini: “Seorang muslim bertanggung jawab terhadap keluarganya, diantara kewajibannya menjaga kesehatan, aqidah dan akhlak mereka.”
Saya berjanji: “Akan bekerja untuk itu dengan segala upaya. Akan menyiarkan ajaran-ajaran islam pada seluruh keluarga saya, dengan pelajaran-pelajaran islami. Tidak akan memasukkan anak-anak saya ke sekolah yang tidak dapat menjaga aqidah dan akhlak mereka. Akan menolak seluruh media massa, buletin-buletin dan buku-buku serta tidak berhubungan dengan perkumpulan-perkumpulan yang tidak berorientasi pada ajaran Islam.”
Saya meyakini: “Di antara kewajiban seorang muslim menghidupkan kembali kejayaan Islam dengan membangkitkan bangsanya dan mengembalikan syariatnya, panji-panji islam harus menjadi panutan umat manusia. Tugas seorang muslim mendidik masyarakat dunia menurut prinsip-prinsip Islam.”
Saya berjanji: “Akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan risalah ini selama hidupku dan mengorbankan segala yang saya miliki demi terlaksananya misi (risalah) tersebut.”
Saya meyakini: “Bahwa kaum muslim adalah umat yang satu, yang diikat dalam satu aqidah islam, bahwa islam yang memerintahkan pemelukya untuk berbuat baik (ihsan) kepada seluruh manusia.”
Saya berjanji: “Akan mengerahkan segenap upaya untuk menguatkan ikatan persaudaraan antara kaum muslimin dan mengikis perpecahan dan sengketa di antara golongan-golongan mereka.”
Saya meyakini: “Sesungguhnya rahasia kemunduran umat Islam, karena jauhnya mereka dari “dien” (agama) mereka, dan hal yang mendasar dari perbaikan itu adalah kembali kepada pengajaran Islam dan hukum-hukumnya, itu semua mungkin apabila setiap kaum muslimin bekerja untuk itu.”