Rabu, 28 November 2007

Profil Tifatul Sembiring ( Presiden PK Sejahtera)

http://www.pks-jakarta.or.id/

TIFATUL Sembiring mulai menempati ruang barunya setelah resmi menjadi pejabat sementara presiden PKS. Dia menempati ruang bekas kantor Hidayat Nurwahid seluas sekitar 5 x 5 meter. Belum ada perubahan berarti di ruang itu. Di meja kerja, nama Hidayat pun masih terpampang beserta jabatannya sebagai presiden partai.Di depan kantor PKS yang berpusat di Jalan Mampang Prapatan, Jaksel, itu terlihat empat mobil parkir. Salah satunya Opel Blazer dengan nopol B 1377 MY warna biru tua, bekas mobil Hidayat. "Mobil itu sudah diserahkan kepada Bapak (Tifatul Sembiring). Tetapi, sejak diserahkan, mobil itu belum pernah keluar. Sebab, Bapak masih menggunakan kendaraan pribadinya (Mitsubishi Kuda). Katanya, sopirnya belum terbiasa membawa mobil itu," ungkap Bambang, salah seorang petugas keamanan yang berjaga-jaga di depan kantor PKS. Di sekitar tempat parkir itu, masih terdapat beberapa papan ucapan selamat dan sukses terpilihnya Hidayat sebagai ketua MPR RI. Tidak ada tanda-tanda sama sekali bahwa partai itu mengalami proses penggantian pucuk pimpinan. Semuanya tampak biasa. Di ruang tamu, hanya wartawan koran ini dan seorang resepsionis sedang menerima telepon. Ketika wartawan ini dipersilakan masuk, Tifatul yang dihubungi sebelumnya sudah menunggu di ruangnya. "Ini ruangan sementara. Kita bisa bisa ngobrol panjang di sini," katanya mempersilakan. Tifatul -yang sebelumnya menjabat ketua DPP PKS Wilayah Dakwah (Wilda) I, membawahkan 10 provinsi se-Sumatera- merendah dengan mengatakan tidak ada yang istimewa dari proses peralihan pimpinan PKS. Dia malah mengaku takut dengan jabatan sementara yang bakal diemban hingga enam bulan ke depan itu. Karena itu, dia merasa harus berhati-hati mengambil tindakan. "Kalau di PKS, kita justru takut menerima jabatan. Karena itu, tidak ada kader yang mau melakukan kampanye positif untuk pencalonannya. Tetapi, kita seperti anak panah yang siap diluncurkan ke mana saja oleh pemegang tali busur, yaitu Majelis Syura dan lembaga tinggi partai," cetusnya.Ayah tujuh anak ini menceritakan, penerimaan mandat untuk menggantikan Hidayat itu cukup mendadak. Dia baru mengetahui pengangkatan itu pada Jumat malam, 8 Oktober 2004, atau tiga hari sebelum dilantik dan diumumkan ke publik. Suami Sri Rahayu ini merasa kaget karena tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang melibatkan Majelis Pertimbangan Partai, Majelis Syura, Dewan Syariah Pusat, dan Presiden PKS Hidayat Nurwahid. "Saya dan istri saya baru tahu malam Sabtu. Keputusan itu sudah diambil dan dimandatkan kepada saya setelah salat magrib," urainya. Tetapi, istri dan anak-anaknya sudah paham pola kerja PKS yang tangkas itu. Apalagi sejak kali pertama aktif di Partai Keadilan (PK, sebelum berganti menjadi PKS), dia selalu berada di luar rumah. Kesibukannya meningkat ketika Nurmahmudi Ismail menjadi presiden PK. Sebagai Humas PKS, dia selalu diminta untuk mendampingi sang presiden. Keluarganya sudah paham dengan kegiatan yang amat ketat itu. "Bahkan, saya pernah berada di luar rumah sampai 17 hari," tutur Tifatul. Dia menambahkan, meski tidak aktif di partai, istrinya sangat paham. Lebih-lebih, keluarga Tifatul Sembiring memberikan makna pekerjaan politik di PKS adalah ibadah dan pengabdian kepada umat. Untuk menyangga kehidupan keluarganya, tokoh kelahiran Bukit Tinggi, 28 September 1961, itu mempunyai usaha sendiri di bidang penerbitan. Dia menjabat direktur sekaligus penulis pada penerbitan Asaduddin Press, Jakarta 1991, itu. Sang istri, Sri Rahayu, juga aktif menulis tentang kewanitaan. Bukunya sudah diterbitkan Gema Insani Press, yakni Bila Muslimah Berpolitik dan Ketika Aku Mencintaimu. Kegiatan di bidang dakwah itu pulalah yang menyatukan tali cinta Tifatul dengan Sri Rahayu. Pasangan itu kali pertama berkenalan di sela-sela kegiatan dakwah di kampus. Tifatul memang berangkat dari aktivis dakwah kampus. Selain menebar syiar Islam, dia akhirnya dipertemukan dengan gadis Karanganyar itu dalam forum mulia itu. Tifatul juga pernah menjadi pengurus Litbang Nurul Fikri Jakarta 1990. Dia telah menulis sekitar 20 buku soal agama dan pendidikan anak-anak. Di antara buku-bukunya itu, sampulnya didesain sendiri. "Saya senang menciptakan desain buku sendiri. Saya juga sudah punya alatnya di rumah," urainya.Meskipun sangat sibuk, Tifatul selalu berusaha menyediakan waktu khusus untuk keluarganya. Bahkan, dia terkadang mengadakan rapat keluarga untuk mendengarkan masukan dan kritik anak-anaknya. Dengan begitu, anak-anaknya tak terasing dari kegiatan ayahnya. Putra putri buah cinta Tifatul-Sri Rahayu masih belum beranjak dewasa. Si sulung adalah Sabriana, kelas 2 SMU, dan adiknya, Fathan, kelas 1 SMA. Sedangkan adik-adiknya adalah Ibrahim, Yusuf, Fatimah, Muhammad, dan si bungsu Abdurrahman, berusia 2 tahun 8 bulan. Mereka tinggal di kompleks Pondok Mandala II Blok N-1, Cimanggis, Depok, Jabar.Sebelum terjun ke dakwah dan politik, Tifatul sebenarnya sudah mendapat pekerjaan mapan. Insinyur lulusan STI&K (Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer), Jakarta, itu bekerja di PLN Pusat Pengaturan Beban Jawa, Bali, Madura. Dia menggarap bidang telekomunikasi dan data processing sejak 1982.Namun, aktivis yang memilih tinggal di Jakarta sejak bersekolah di SMP itu mengundurkan diri pada 1989. Alasannya, pekerjaannya itu sangat menyita waktunya sehingga tidak bisa menyempatkan diri berinteraksi dengan sesama untuk berdakwah. Padahal, dalam dirinya telah tertanam jiwa mubalig sejak di kampus. "Sedikit sekali waktu saya untuk berinteraksi dengan masyarakat. Saya berangkat jam enam pagi dan pulang jam enam sore dalam kelelahan. Interaksi saya dengan masyarakat itu minim sekali. Dalam Islam, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memberikan manfaat kepada orang lain," urai Tifatul dengan nada rendah.Sekeluar dari PLN, aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) itu bergabung dengan yayasan pendidikan Nurul Fikri pada 1990 dan selanjutnya dalam Korps Mubaligh Khairu Ummah hingga sekarang. Tifatul juga pernah mengasah wawasan sekitar enam bulan di International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan.Dari kegiatan dakwah itulah, Tifatul merangkai lagi jaringan dakwah kampus. Setelah era multipartai tiba, dia ikut mendirikan PK. Tifatul tercatat sebagai salah seorang di antara 50 pendiri PK. "Saya termasuk pendiri PK pada 1998. Termasuk Pak Hidayat Nurwahid dan Nurmahmudi Ismail. Pada 2003, kami tidak lolos electoral threshold, maka kami ganti nama menjadi PKS," katanya. Di situlah, Tifatul mulai menggeluti politik praktis. Karirnya terus berkembang dalam partai itu. Awalnya, dia menjabat humas partai sekaligus mendampingi Nurmahmudi Ismail. Menjelang Munas PKS, Tifatul ditugaskan sebagai wakil sekjen dan pascamunas mendapat mandat menjadi ketua DPP untuk Wilayah Dakwah (Wilda) I Sumatera. Soal pengangkatannya sebagai pejabat sementara presiden PKS, Tifatul masih meraba-raba. Di antaranya, mungkin saja, dia dipandang sukses karena PKS memperoleh 380 kursi di parlemen dari Sumatera. Sebanyak 11 orang di DPR RI, 57 orang di DPRD provinsi dan sisanya adalah DPRD kabupaten/kota. Itu lebih dari sepertiga dari total 1.112 kursi yang diperoleh PKS di seluruh Indonesia. Namun, Tifatul tak bisa memastikannya. Dia hanya bisa menduga-duga penyebab ditunjuk sebagai eksekutif tertinggi di PKS itu. "Saya tidak memahami pertimbangan lembaga tinggi partai sampai meyakinkan majelis syura (untuk memilih dia)," katanya.Berkaitan dengan penentuan PKS untuk mendukung SBY-Kalla, Tifatul ternyata menjadi salah seorang tim pelobi partai. "Alhamdulillah, setelah saya persentasikan di depan majelis syura, keberhasilan itu (hasil komunikasi dengan SBY-Kalla) diterima dengan baik dan akhirnya menunjuk saya menjadi tim lobi SBY-Kalla sampai kita melahirkan kontrak politik." Namun, Tifatul kembali mengigatkan, apa pun keberhasilan PKS itu hasil kerja kolektif dengan rekan-rekannya. Sebab, menurut dia, bekerja di PKS itu bukan secara individual. Tetapi, secara tim dan didukung partai. Begitu juga dengan hasil kerjanya di Sumatera pada pemilu legislatif lalu. Tifatul mengakui, dirinya dibantu kekompakan sekitar 52 ribu kader PKS se-Sumatera. Selamat berdakwah. (*) (berita: Indo Pos/foto:timedi@)

Tidak ada komentar: